Tuesday, August 10, 2010

Ramadhan sudah menghampiri, aku masih kaku berdiri.





Langit mendung. Awan gelap. Angin sepoi-sepoi bahasa. Yang terdengar kini hanyalah bunyi angin yang bersiul, geseran sesama mereka menghasilkan bunyi bingit, umpama siulan kencang puting beliung yang memakan banyak jiwa.

Aku kini sedang berdiri di bawah awan yang mengandungi banyak hujan ini. Ia menunggu masa untuk menggugurkan manik-manik air yang menyejukkan. Entah baik untuk kesihatan, entah sebaliknya.

Kakiku kini kaku dan tegak terpacak di atas tanah hitam ini, hitam hingga sukar dalam kegelapan senja ini untuk melihat kakiku sendiri.

Di hadapanku, terpampang satu pintu pagar yang sangat besar. Ianya menyimpan misteri yang sungguh agung. Di sebalik pintu ini dan tembok yang gah ini, ada suatu tempat yang sungguh menenteramkan jiwa. Aku pernah merasainya.

Namun entah mengapa, tanah dan suasana yang gelap lagi menyejukkan ini seolah-olah menghambatku daripada menggapai tombol pintu itu. Aku masih mengira-ngira seandainya ada kejutan lain yang menantiku dalam kegelapan ini.

Selut dan lumpur yang menyelubungi setiap inci tubuh badan ini, seolah-olah menarikku untuk turut bersama mereka. Aku masih lemah dan tersiksa, seolah-olah pasrah dalam derita ini.


***

Hari ini, genap 7 tahun aku berada dalam madrasah tarbiyyah ini. 7 tahun juga aku mengalami perasaan yang serupa. Namun mujahadah cinta mengajarku apa itu erti bahagia, membuatkan aku begitu terhibur dan mengerti nikmat ketenangan dalam setiap ruangan cinta yang diperoleh sepanjang bulan penuh makna ini. Akhirnya, di setiap sela tahun itu, aku berjaya mendidik diri menjadi lebih rabbani dalam setiap ramadhan yang dilalui.

Juga hampir setahun genapnya ummi meninggalkan kami. Aku takut sebenarnya. Aku takut seandainya dugaan yang aku hadapi tahun ini lebih menghimpit, sehinggakan aku tidak menyediakan ruangan dalam sudut hati ini untuk kembali meniti titian penyucian jiwa. Tarbiyyah hati bulan ilahi.

Namun, dalam kelat perasaan hati ini aku tersentak dengan sikap beberapa sahabatku. Betapa mulianya mereka.

Ada sahabatku yang dengan penuh rendah hati menyatakan dia akan mengambil cuti hari ini, supaya dapat betul-betul bersedia untuk ramadhan kali ini. Dari sudut hati dan materi.

Tidak kurang juga kawan-kawanku yang lain yang begitu seronok merancang macam-macam untuk ramadhan mereka. Ada yang mengajakku jauh ke daerah lain untuk mencari kurma. Ada juga yang survey-survey tempat untuk dijadikan port i'tikaf. Ada yang sudah rancang betul-betul masa supaya dapat jadikan ramadhan kali ini sebagai suatu masa khusus mentarbiyyah adik-adik. Ramai pula sahabat-sahabatku yang menulis tentang ramadhan ini.

Aku terpegun sambil memandang mereka. Mengapa aku tidak merasakan bulan ini seistimewa itu sedangkan ia juga yang mengubah haluanku selama ini?

Sudah gelapkah hati? Sudah hitamkah sanubari?

Aku istighfar sebanyaknya. Mudah-mudahan ntum juga turut sama beristighfar.


***

November 2003

Apa yang ada di fikiranku hanyalah SPM, SPM dan SPM. Hinggakan hari ini, walaupun ia sudah tamat, ia tidak berhenti menghantui diriku. Setiap detik waktu aku hanya berfikir tentang SPM yang satu.

Entah mengapa, dalam keserabutan ini, aku dapat rasai ketenangan yang jarang sekali aku kecapi. Melalui solat-solat sunatku kah? Atau puasa penuh Rejab, Syaaban dan Ramadhan? Atau kerana aku dapat melepaskan segala beban yang aku pikul sepenjang zaman persekolahan ini?

Aku tidak pernah merasai kemanisan dan ketenangan ini. Tidak pernah. Baru kini aku dapat rasa kebergantungan yang sangat utuh kepada Sang Pencipta. Aku merasai betapa kerdilnya aku di sisiNya.

Selama ini, aku cuba melarikan diri dengan alasan untuk mencari arah tuju hidupku sendiri. Namun kini, aku kembali kepadaNya, kerana aku sedar tiada hiburan yang dapat menghiburkan aku, selain dzikrullah yang menenteramkan jiwa.



***


Bismillah,

Aku pegang tombol pintu gerbang itu dan memutarkannya.

Engsel berbunyi dan sinar-sinar cahaya keluar... Menyimbah diriku ini,

Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar!

Ya, Allah, Aku ingin dekat denganmu. Kaki kananku melangkah masuk.




3 comments:

Nurul `Atiqah Khairudin said...

Semoga kita sama-sama dapat merasai kemanisan dan keenakan bulan Ramadhan kali ini.InsyaAllah.

atie said...

salam ...

semoga ramadhan memberi lebih kebahagian buat anda.....sesuatu yang hilang itu tentu ada hikmahnya..

sesape je said...

Salam my dear brothers and sisters in faith.

My deepest love and respects to you and your beloved ones on the advent of Ramadan. Many positive feelings overtake us this month: excitement, happiness, anticipation of blessings and reward, joy upon meeting family and friends regularly and the delight of amazing delicacies on the iftar table!
However for many of us, it is the negative emotions that predominate at the start of this month: fear of yet another unsuccessful Ramadan, apprehension and guilt. We start this month of Ramadan feeling guilty for being away from Allah for so long. This guilty feeling leads to a lot of negativity in our approach to this month and perhaps to the lack of optimism in retrying those special attempts we had made before to read the whole Quran or to pray taraweeh and tahajjud every night or some other good deed in Ramadan. In fact for so many of us, guilt takes us away from Allah and makes us feel inferior and sometimes cripples us to lesser levels of aspiration and success.
So I would like to ask you all to feel free of guilt of the past. Why worry about something you can't change? It is not the past that should worry us or bother us, rather what could happen in the future. The past is the past - we can't change the sins we have done in the past - so to constantly focus on that for the vast majority of us - is far more crippling for the future than anything else. The prophetic guidance is to regret the past sins and missed opportunities, whilst fearing the future possible sins and being weary of missing future opportunities.

It is as Ibnul-Qayyium said in AnNooniyyah: "By Allah, I don't fear my past sins, since I have sincerely repented to Allah and Allah loves to forgive.However, what I truly fear is that in the future this heart of mine will cease to rule by this Quran and this revelation."

Remember that Allah is AlWadud - the loving God - He is the one who loves you more than your own parents! Have you not heard how Sufyan atThawri said: "I would rather that Allah judges me on the Day of Judgement rather than my own parents, for indeed I know that Allah loves me more than my own parents!" [Reported in Hilyatul-Awliyaa] So overpowering is Allah's mercy that it has transcended His anger. So wide is His Mercy that the Prophet sallallahu alaihi wa sallam said: "If the disbeliever knew of the extent of the Mercy of Allah, then none would have despaired of entering His Paradise!" [Reported by Muslim] And plus, what past sins, when your sincere repentance with Allah's Mercy would have wiped it away and replaced it with equivalent good deeds: "Except those who repent, believe and do righteous deeds - they are the ones who Allah will turn their bad deeds into good deeds. And indeed Allah is most Forgiving most Merciful." [AlFurqan 25:70]
My friends, how do you dare to think that Allah does not love you when He says so clearly in the Quran: "Allah has not forgotten you, nor does he hate you!" [AdDuha 93:3] If He hated you, why did He keep you alive till another Ramadan? If He hated you, why does he provide for you even when you disobey Him? If He did not love you, why is He allowing you to taste the sweetness of loving Him this month by fasting and praying? If He didn't love you, why did He keep you upon Islam?

So come back to AlWadud - your loving Lord - the one who loves you more than anything else. He is waiting for you and is more happy with you remembering Him than you can imagine. If you come to Him today, He will rush to you. If you remember Him, He will remember you. If you talk about Him, He will talk about you to those with Him. If you say sorry O Allah, He will forgive you and turn them into good.

Enjoy a month of renewed emaan and focus on the good that you can do this month. Learn from the past, but focus on the future!

With all my love and prayer for your success in this month.
Your brother, Dr. Tawfique Chowdhury
Director General
Mercy Mission World

[Blog Archieve]

[Ahlan Bina]